.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Senin, 30 Januari 2012

Sadarkah Facebook Telah Meng-Yahudi-kan Kita ??


Berdoa itu kpd Allah (Qs.Ghofir:60), mengeluhkan permasalhan juga tepatnya kpd Allah. Tidakkah kita membaca perkataan seorang hamba yang sholeh: Dan dia (Ya'kub) berkata: Dan hanya kpd Allah sajalah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku....(Qs.Yusuf:86)


SADAR ATAU TIDAK, FACEBOOK TELAH MENG-YAHUDI-KAN KITA...

Sebelumnya mohon maaf, ini hanya bahan instropeksi saya pribadi khususnya dan teman2 pada umumnya..


Benarkah Wall Facebook sama dengan Dinding Ratapan Yahudi? Wall kan Artinya dinding/tembok, Naahh… Percaya atau tidak, dan disadari atau tidak, ternyata wall facebook faktanya telah beralih fungsi. Kalo dulu fungsi awalnya sebagai tempat bersosialisasi dan berbagi dengan teman teman, sekarang sudah menjadi tempat untuk berdoa atau bahkan meratapi nasib yang sedang menimpa pemilik akun. Coba sekarang perhatikan/tengok beranda atau wall kita atau teman2 disana mungkin terlihat bahwa teman-teman kita di facebook banyak yang berdoa, mengeluh, bahkan meratapi kehidupan di dinding facebooknya. Karena faktanya seperti ini lalu apa bedanya dengan tembok ratapan di Yerussalem, yang juga merupakan tempat suci bagi kaum Y4hudi.



Tembok Ratapan adalah tempat yang penting dan dianggap suci oleh orang Y4hudi maupun Muslim. Ini adalah sisa dinding Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo (Sulaiman), putra Daud. Bait Suci itu hancur ketika Israel diserbu tentara Romawi pada tahun 70 Masehi.
Panjang tembok ini aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter.
Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam “Shekhinah” (kehadiran ilahi). Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan.
Orang Yahudi berdoa di Tembok Barat
Tembok ini dulunya dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut “Tembok Ratapan” karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Y4hudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu. ( wikipedia )


Kita juga pantas untuk merasa curiga, kenapa pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, memberi nama tempat untuk menuliskan status dengan Wall atau dinding. Sehingga, ketika Wall itu berisi ratapan atau rintihan, jadilah kondisinya menjadi tembok ratapan.


Memang, ini facebook ini cuma dunia maya, tapi sadar atau tidak facebook telah berhasil meng-Y4hudi-kan kita. Marilah gunakan facebook dengan bijak, janganlah digunakan berdoa, mengeluh atau bahkan meratapi nasib. Karna itu bukan tempatnya, kalau mau berdoa, mengeluh atau bahkan meratap harusnya dilakukan di tempat ibadah, misalnya selesai sholat. Jadikan Facebook jadi sarana dakwah, berdiskusi atau berbagi sesuatu yang bermanfaat.


Smoga catatan ini bisa jadi bahan renungan dan instropeksi diri sehingga kita tidak mengeluh atau meratap di facebook lagi, baik melalui status, postingan maupun komentar-komentar, baik secara tersurat maupun tersirat.


sumber : Abu Unais Al Makassary

Yahudi Iran : TIDAK ADA MASA DEPAN BAGI ISRAEL


Pain Kinahad, wakil komunitas Yahudi Kalami di Iran mengatakan bahwa tidak ada masa depan bagi rezim Zionis Israel.


 Hal ini dia nyatakan di hadapan sekitar 200 aktivis yang tergabung dalam misi kemanusiaan Asia to Gaza Solidarity Caravan di Aula Syeikhbahaei di Isfahan, Iran pada 10 Desember 2010.
 Dalam kesempatan menyambut konvoi Asia to Gaza yang tiba di Isfahan sekitar pukul 22.00 waktu setempat, Kinahad mengutip ayat dari Kitab Mazmur yang menyatakan bahwa orang-orang beriman, betapa pun lemahnya mereka, akan mampu mengatasi kejahatan yang ditimpakan terhadap mereka. Dan hal seperti inilah yang akan terjadi dalam konteks Palestina dalam menghadapi kejahatan Zionis Israel.
 Lebih lanjut, wakil Yahudi Kalami di parlemen Iran ini menyatakan bahwa komunitas Yahudi di Iran hidup dalam harmoni dengan komunitas-komunitas agama lain di Iran dan merasa terlindungi dengan keberadaan Republik Islam.
 Menurutnya, komunitas Yahudi di Iran memiliki akar yang kuat dengan negeri yang ditinggalinya karena sudah sejak ribuan tahun sebelum Masehi, Yahudi telah mendiami Iran, tepatnya ketika Kaisar Cirus dari Persia menyelamatkan mereka dari amukan Kerajaan Babilonia. Inilah yang membuat mereka berbeda dengan imigran-imigran Yahudi Eropa yang kini merampas tanah bangsa Palestina. Iran sendiri adalah rumah terbesar bagi komunitas Yahudi di Timur Tengah.


Disambut Gubernur
Dalam acara penyambutan di Isfahan, hadir pula Gubernur Isfahan Zakari. Menurutnya, konvoi Asia to Gaza adalah gerakan yang mempersatukan orang dari berbagai latar belakang dalam satu ideologi, yakni ideologi perlawanan. Dan Isfahan, menurutnya, sangat terhormat menjadi salah tempat persinggahan konvoi. Sebab, Isfahan adalah simbol perlawanan Iran terhadap hegemoni sains dan teknologi yang dipaksakan Barat atas Iran terkait dengan keberadaan dua reaktor nuklir di Isfahan.
 Menurut Zakari, Iran akan selalu mendukung bangsa-bangsa tertindas di mana pun sebab selama beberapa dekade bangsa Iran pernah merasakan sendiri bagaimana pahitnya berada dalam hegemoni negara adikuasa meski negara ini tidak secara fisik menduduki wilayah Iran. Dan bagaimana perlawanan yang Iran lakukan ketika harus menghadapi perang yang dipaksakan dengan Irak.
 Dalam kesempatan yang sama, Shahzad, wakil Isfahan di Parlemen Iran menyampaikan dukungan resmi Parlemen Iran terhadap kegiatan konvoi kemanusiaan Asia to Gaza Solidarity Caravan. Dukungan itu disampaikan Parlemen Iran dalam sebuah resolusi.


Di Yazd
Sebelum tiba di Isfahan, konvoi sempat singgah di kota Yazd Iran guna menunaikan salat Jumat. Di kota ini, konvoi disambut hangat oleh masyarakat yang berkumpul di jalan-jalan menjelang salat Jumat. Setelah berbagai orasi dan sambutan, konvoi dilepas masyarakat Yazd dengan senandung duka bagi Imam Husain. Sebagian besar warga melepas konvoi dengan mata berkaca-kaca. Sementara para peserta konvoi merasa terharu dengan sambutan dan pelepasan ini, karena merasa bahwa pahlawan sesungguhnya dalam misi ini adalah rakyat Palestina.
 Kemudian, konvoi dijamu walikota Yazd dengan jamuan makanan tradisional.

Minggu, 29 Januari 2012

Orang Pintar tahu bedanya Israel, Yahudi & Zionis, sedangkan orang Bodoh TIDAK

Saya mengajak untuk kembali membedakan istilah (kata) berikut:


+ Yahudi
+ Bani Israel
+ Zionis
+ Negara Israel
+ Israel (Tambahan)


Israel, adalah sesungguhnya nama lain dari Yakub putra Ishaq putra Ibrahim. 
Bagi seorang muslim, beliau adalah salah satu Nabi yang harus kita yakini dan 
hormati. Didalam Al-quran, Nabi Yakub memiliki tempat yang tinggi disisi 
beliau. Israel (Israil dalam bahasa Arab) terdiri dari 2 kata, Israa dan iil
yang artinya "Kekasih Allah" atau "Hamba Allah"..


Bani Israel, adalah istilah untuk menyebut "Anak-anak Nabi Yakub". Seperti
halnya kita yang disebut sebagai Bani Adam (Keturunan Adam). Nabi 
Yakub memiliki 12 anak yang kelak membentuk 12 suku (Yusuf adalah salah satu 
dari 12 anak tersebut). Banyak dari keturunan Nabi Yakub yang kemudian menjadi 
Nabi dan Rasul, seperti: Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa, Daud, Sulaiman, Yunus, 
Zakaria, Yahya dan Isa..


Zionis, adalah perkumpulan beberapa kaum Yahudi yang merancang Deklarasi
Balfour yang didirikan di Perancis.


Negara Israel, adalah negara yang dibentuk di Tanah Palestina berdasarkan 
Deklarasi Balfour dengan bantuan Inggris. Nama dari Negara Israel 
sendiri diambil dari nama Nabi Yakub, yang sesungguhnya cukup kontradiktif 
dengan tujuan pendirian Negara itu sendiri. Karena bagaimanapun, hanya orang 
Yahudi yang menjadi warga "Negara Israel" sedangkan keturunan Nabi Yakub, tidak 
semua-nya menganut Yahudi.


Yahudi, adalah keyakinan yang dimiliki oleh sebagian besar Bani Israel. 
Keyakinan Yahudi pun memiliki begitu banyak aliran. Namun demikian, tidak semua 
Bani Israel berkeyakinan Yahudi. Hingga kini banyak dari Bani Israel yang 
berkeyakinan Nasrani bahkan juga menjadi Muslim. Dan menurut Islam, tentu para 
Nabi bukanlah penganut Yahudi.


Demikian, semoga bisa menjadi penegas bagi kita tentang perbedaan-perbedaan 
Istilah di atas.


Catatan: 
Mohon berhati-hati ketika ingin menghujat kata "Israel", karena nama Israel
sendiri diambil dari nama orang yang kita (umat Islam) mulia-kan, Nabi Yakub AS.

Senin, 23 Januari 2012

KATA-KATA BIJAK DARI "BUNG KARNO"

 
Bung Karno adalah persiden pertama Indonesia . Kata-katanya yang tidak asing bagi kita adalah “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” 
Dan berikut ini adalah kata-kata beliau ketika menyampaikan pidatonya yang seharusnya menjadi pedoman bagi kita semua untuk kemajuan bangsa kita kedepannya. 

1. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” .

2. “Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno).

3. “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

4. “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”.

5. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961).

6. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

7. “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno).

8. “……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno).

9. “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno).

10. “Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita belum selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno).

11. “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ”Tuhan tidak merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno).

12. “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno).

13. “Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno).

14. “Aku Lebih suka lukisan Samudra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno).

15. “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)